Archive for the 'Artikel' Category

Anggrek merupakan salah satu dari ratusan jenis tanaman hias yang ada disekitar kita. Kata “anggrek” akan memberi makna tersendiri. Kenapa? Karena kalau mendengar kata anggrek seseorang akan membayangkan suatu tanaman hias yang langka, eksotik, mahal, indah, beranekaragam warna dan unik. Tidak heran apabila pada suatu kegiatan bursa anggrek di Malang beberapa waktu lalu, ada seorang pembeli anggrek Dendrobium dengan harga Rp. 40.000 sudah bilang “kok mahal”, padahal di tempat bursa yang lain ada satu jenis anggrek yang harganya jutaan,toh juga laku. Hal ini menandakan bahwa presepsi masyarakat terhadap anggrek sangat beragam tergantung dari sisi mana melihatnya kalau membeli anggrek tersebut.

Anggrek telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai tanaman hias unggulan nasional adalah sangat wajar karena di Indonesia diperkirakan terdapat lebih dari 5000 spesies asli. Bagaimana para penganggrek di belahan dunia sangat kagum dan mengkoleksi anggrek Indonesia, hal ini terbukti dari banyaknya buku-buku yang telah diterbitkan tentang anggrek Indonesia antara lain : “Orchids of Java”, “Orchids of Borneo I, II, dan III”. “Orchids of Sumatra”, “Orchids of Sulawesi” dan” Orchids of Indonesia”. Semua buku yang dibuat tersebut berdasarkan hasil koleksi mereka. Disisi lain istilah protocorm merupakan hasil penelitian yang telah dilakukan di Bogor Botanical Garden oleh Melchior Treub sekitar tahun 1890. Pada fakta yang lain penulis merasa sangat sedih ketika membaca di Internet mengenai kegiatan seminar di Siangpura, mengenai penemuan dua anggrek baru dari Sulawesi. Akan tetapi informasi ini harus ditanggapi sebagai suatu tantangan buat kita untuk mulai berbuat sesuatu terhadap anggrek Indonesia kita ini.

Dalam dua tahun terakhir ini apabila kita mengikuti kegiatan bursa maupun pameran anggrek di Malang dan Surabaya terlihat kesan bahwa prosentase jumlah tanaman anggrek dalam negeri yang ditampilkan makin berkurang, sedangkan angrrek impor semakin bertambah banyak, lebih menarik, beraneka ragam bentuk serta cukup murah. Pertanyaannya adalah ada apa dan bagaimana anggrek kita sendiri? Untuk itu jawabannyapun juga tidak mudah karena dapat disoroti dari berbagai aspek..Salah satunya aspek misalnya pada keanekaragaman bentuk, warna dsb, terlihat bahwa perkembangan anggrek dalam negeri cukup tertinggal jauh, walaupun penyilang-pengyilang kita telah berusaha, akan tetapi dalam hal jumlah dan keanekaragaman jenis yang dihasilkan masih terbatas. Apakah kita patut merasa rendah diri terhadap anggrek kita?semoga hal tersebut tidak terjadi, karena keanekaragaman anggrek kita tidak tertandingi oleh anggrek lain, misalnya Dendrobium Phalaenopsis, species asli, sangat banyak disilangkan atau direkayasa genetik menjadi anggrek-anggrek unggul yang baru yang indah dan mahal. Sebagai contoh yang sederhana ternyata tanaman anggrek remaja yang belum berbunga dari hasil persilangan antar species asli Indonesia sangat laku keras pada suatu bursa di Singapura. Hanya siapa-siapa saja yang akan melakukan persilangan maupun perbanyakan anggrek-anggrek spesies asli kita? Pada sarasehan anggrek pada tahun 2004 lalu, salah satu pembicara yaitu Bp. Sutikno telah menekankan bahwa pendekatan melalui bioteknologi rupanya satu-satunya cara yang harus dikembangkan kalau kita mau berkompetisi dengan penganggrek di luar negeri. Hal ini juga searah dengan salah salah satu program Pengembangan Anggrek di Indonesia oleh Direktorat Tanaman Hias yang menyatakan bahwa peningkatan daya saing harus dilakukan melalui penggunaan komponen inovasi teknologi (IPTEK), sehingga akan mampu menghasilkan varietas anggrek unggul dan dapat memenuhi persyaratan kualitas yang diminta pasar serta mampu bersaing dengan produk sejenis dari negara lain. Aspek ini ternyata menjadi sangat penting karena pada pameran Hortifair 2005 di Belanda, dilaporkan bahwa inovasi pembentukan varietas-varietas unggul baru sangat ditonjolkan dalam pameran tersebut, sedangkan jenis anggrek Dendrobium, Phalaenopsis, Cymbidium dan Paphiopedilum termasuk deretan tanaman hias yang dipamerkan.

Pada aspek lain kiranya perlu ada upaya-upaya untuk memberi dorongan yang kuat secara berkelanjutan kepada generasi muda kita mau berkiprah pada tanaman anggrek. Cukup ironis memang apabila kota Malang yang mempunyai 7 fakultas pertanian negeri maupun swastanya, sangat sedikit sekali kegiatan penelitian atau tesis S1/S2/S3 pada tanaman anggrek, padahal tumbuh dan berkembang ilmuwan/ praktisi muda diharapkan merupakan produk dari kalangan kampus. Peluang kerjasama dengan PAI Malang masih terbuka lebar dan tentunya dengan segala keterbatasan-keterbatasan kedua pihak yang ada, akan tetapi paling tidak ada sesuatu yang bisa dimulai untuk mencoba memecahkan maslah anggrek secara bersama-sama. Saat ini sudah mulai ada greget dengan terbentuknya pusat kajian anggrek, mahasiswa pecinta anggrek, dan club anggrek.

Pada khasanah penganggrekan, daerah Malang telah dikenal sebagai salah satu pusat perkembangan anggrek di Indonesia sejak zaman dulu, hal ini telah dibuktikan dengan sederetan hasil anggrek silangan yang didaftarkan di Royal Orchid, Inggris oleh Bapak Handoyo Hardjo, Kolopaking sejak tahun 1970 yang juga diikuti pula oleh para penyilang PAI Surabaya antara lain Molin Sumardjo, Wirakusuma dan Sutikno.

Saat ini di Malang telah banyak berkembang para penganggrek baru yang tentunya diharapkan akan dapat menjadi pelaku usaha pendukung untuk perkembangan anggrek dimasa mendatang khususnya untuk kota Malang. Tekanan akibat membanjirnya anggrek-anggrek impor tentunya tidak akan melemahkan kondisi anggrek dalam negeri akan tetapi justru menjadi pemacu bagi penggemar/ grower/ penyilang untuk mengembangkan kreativitas/ ide bagaimana meningkatkan kualitas anggrek dalam negeri. “Upayakan untuk tampil beda dengan sentuhan seni”, kata Bp Rizal (pakar anggrek dari Bandung) dan akan lebih baik lagi apabila ditambah dengan sentuhan teknologi, maka pasti akan berhasil. Untuk forum-forum diskusi diantara anggota PAI atau bukan, mengembangkan pusat informasi tentang anggrek di dunia, pelatihan dan menggalakkan penelitian tanaman anggrek diharapkan dapat mempercepat proses peningkatan kualitas walaupun memerlukan waktu yang cukup lama. Pernah ada pemikiran untuk meniru seistem pengembangan Anggrek di Ragunan atau TMII Jakarta, akan tetapi realitasnya tidak mudah karena masih banyak hal/ masalah yang harus dipelajari secara seksama dan cermat sebelum dilaksanakan, antara lain lokasi yang strategis, luas lahan yang memadai, aspek pemasaran, dana pengadaan lahan, siapa saja yang akan menempati kapling tersebut, bagaimana sistemnya, dsb. Akan tetapi dimasa mendatang pendekatan ini patut untuk dipertimbangkan kembali.

Ada hal lain yang perlu dipikirkan dan syukur-syukur bisa dilaksanakan adalah membuat buku tentang tanaman anggrek dari segala jenis dan aspeknya berdasarkan pengalaman nara sumber yang telah bertahun-tahun berkecimpung pada tanaman anggrek misalnya Bapak Handoyo Hardjo, Moling Sumardjo, Sutikno, Wirakusuma, Soerjanto dll, dan tentunya buku tersebut sangat berguna untuk generasi penerus. Diluar negeri penulis buku umumnya sudah puluhan tahun menggeluti masalah anggrek sehingga tahu secara tepat apa yang harus dilakukan untuk tanaman anggrek. Pak Rizal telah memulai dengan anggrek Phalaenopsis dan siapa menyusul?

Dari uraian singkat diatas, bila diurai dengan menggunakan analisa SWOT, anggrek Malang secara sederhana adalah sebagai berikut :

Kekuatan (S) : Potensi jenis anggrek yang melimpah, kondisi alam, tanah dan iklim yang mendukung, ketersediaan tenaga kerja yang cukup

Kelemahan (W) : Skla usaha masih terbatas, kualitas masih perlu peningkatan, kontinuitas pasokan tidak terjamin, kebijakan ekspor kurang mendukung, sistem informasi pasar dan teknolohi terbatas, serta kerjasama antara perilaku usaha juga masih terbatas.

Peluang (O) : Permintaan pasar tanaman anggrek baik didalam dan luar negeri semakin meningkat.

Ancaman (T) : Masuknya anggrek impor dan tuntutan standart mutu.

Dari gambaran analisa SWOT tersebut diatas jelas bahwa para penganggrek di Malang mau tidak mau harus berani mulai melakukan perubahan-perubahan dala perilaku usaha anggrek. Ada beberapa langkah yang mungkin dapat dilakukan untuk menatap masa mendatang semakin cerah dengan cara antara lain :

1. Meningkatkan motivasi usaha agribisnis anggrek dari skala kecil menjadi skala menengah/ besar.

2. Melakukan pertemuan/ komunikasi antara pelaku usaha anggrek untuk memecahkan masalah-masalah tehnis dan ekonomis yang timbul.

3. Mengembangkan/ mencari teknologi inovatif (varietas, bibit dan budidaya)

4. Melakukan promosi dan kontak bisnis yang lebih aktif

5. Menerapkan sistem manajemen mutu.

6. Mengembangkan sistem informasi anggrek.

Dari keenam pendekatan tersebut diharapkan para penganggrek dapat memperkuat basis produksi dan menerapkan jaminan mutu yang mengacu pada preferensi dan meningkatkan akses pasar sehingga mempunyai daya saing yang kuat yang tidak hanya dengan para pelaku usaha di luar negeri tetapi juga didalam negeri sendiri. Dimasa mendatang diharapkan anggrek di Malang sudah merupakan suatu industri tanaman hias yang berdaya saing. Pada sisi lain apapun yang akan dilaksanakan oleh para pelaku usaha anggrek tidak terlepas dari dukungan pemerintah daerah maupun pusat, untuk itu mudah-mudahan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan saat ini dan mendatang tentunya diahrapkan dapat mempercepat tumbuh dan berkembangnya anggrek di Malang.

(Sumber: Buku Kenangan Pameran & Bursa Anggrek Malang Raya 2005, T. Adisarwanto, PAI Malang)



Copyright Venus Orchids, 2005